Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Selamatan Kematian ( Tahlilan ) Bagaimana Hukumnya
Mesra.net Forum > Social & Societies > Hal Ehwal Islam
si_comel

Sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia ketika salah seorang anggota keluarganya meninggal dunia, maka diadakan acara ritual " Tahlilan". Apakah acara tersebut berasal dari Islam ?

Mari kita simak dengan hati nurani yang murni untuk mencari yang haq dari dien yang kita yakini ini.
Kita lihat acara dalam Tahlilan ( maaf ini hanya sepanjang penulis ketahui, bila ada yang kurang harap maklum )
- Biasanya bila musibah kematian pagi hari maka di malam harinya diadakan acara Tahlilan ini yaitu dibacakan bersama-sama surat Yasin atau doa lainnya.
- Kemudian di do'akan untuk ahli mayit dan keluarganya dan terkadang ahli mayit menyediakan makanan guna menghormati tamunya yang ikut dalam acara Tahlilan tersebut.
- Bahkan biasanya acara ini bukan hanya pada hari kematian namun akan berlanjut pada hari ke 40 dan seterusnya.

Saudaraku,
Mari kita simak Hadits Shahih berikut :
" Dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii, " Kami ( yakni para Shahabat semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap."

Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat ( dapat dipercaya ) atas syarat Bukhari dan Muslim, bahkan telah di shahihkan oleh jama'ah para ulama'
Mari kita perhatikan ijma'/kesepakatan tentang hadits tersebut diatas sebagai berikut :
1. Mereka ijma' atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada seorang pun ulama' ( sepanjang yang diketahui penulis-Wallahua'lam ) yang mendhaifkan hadits tersebut.
2. Mereka ijma' dalam menerima hadits atau atsar dari ijma' para shahabat yang diterangkan oleh Jarir bin Abdullah. Yakni tidak ada seorang pun ulama' yang menolak atsar ini.
3. Mereka ijma' dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas.

Mereka dari zaman shahabat sampai zaman kita sekarang ini senantias melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma'kan oleh para shahabat yaitu berkumpul-kumpul ditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita
kenal di negeri kita ini dengan nama " Tahlillan atau Selamatan Kematian ".

Mari kita simak dan perhatikan perkataan Ulama' ahlul Ilmi mengenai masalah ini :
1. Perkataan Al Imam Asy Syafi'I, yakni seorang imamnya para ulama', mujtahid mutlak, lautan ilmu, pembela sunnah dan yang khususnya di Indonesia ini banyak yang mengaku bermadzhab beliau, telah berkata dalam
kitabnya Al Um (I/318) :
" Aku benci al ma'tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan ." )*

)* : ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi'I menerangkan menurut kebiasaan yaitu akan memperbaharui kesedihan. Ini tidak berarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak !

Perkataan Imam Syafi'I diatas tidak menerima pemahaman terbalik atau mafhum mukhalafah.

Perkataan imam kita diatas jelas sekali yang tidak bisa dita'wil atau di Tafsirkan kepada arti dan makna lain kecuali bahwa : " beliau dengan tegas Mengharamkan berkumpul-kumpul dirumah keluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai dengan apa yang kita namakan disini sebagai Tahlilan ?"

2. Perkataan Al Imam Ibnu Qudamah, dikitabnya Al Mughni ( Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :

" Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu hal yang dibenci ( haram ). Karena akan menambah kesusahan diatas musibah mereka dan menyibukkan mereka diatas kesibukan mereka
dan menyerupai perbuatan orang-orang jahiliyyah. Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya, "
Apakah mayit kamu diratapi ?" Jawab Jarir, " Tidak !" Umar bertanya lagi, " Apakah mereka berkumpul di rumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, " Ya !" Berkata Umar, " Itulah ratapan !"

3. Perkataan Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, dikitabnya :
Fathurrabbani Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal ( 8/95-96) :
" Telah sepakat imam yang empat ( Abu Hanifah, Malik, Syafi'I dan Ahmad ) atas tidak disukainya ahli mayit membuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disitu berdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah. Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram, sedangkan para Shahabat telah memasukkannya ( yakni berkumpul-kumpuldirumah ahli mayit ) bagian dari meratap dan dia itu (jelas) haram. Dan diantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit dengan alas an ta'ziyah /melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini. Telah berkata An Nawawi rahimahullah, 'Adapun duduk-duduk (dirumah ahli mayit ) dengan alas an untuk Ta'ziyah telah dijelaskan oleh Imam Syafi'I dan pengarang kitab Al Muhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya ( perbuatan tersebut ).' Kemudian Nawawi menjelaskan lagi, " Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab :
Dibenci duduk-duduk ( ditempat ahli mayit ) dengan alas an untuk Ta'ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats ( hal yang baru yang tidak ada keterangan dari Agama), sedang muhdats adalah " Bid'ah."

4. Perkataan Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu' Syarah Muhadzdzab (5/319-320) telah menjelaskan tentang Bid'ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit dengan membawakan perkataan penulis kitab Asy Syaamil dan ulama lainnya dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnya shahih.

5. Perkataan Al Imam Asy Syairazi, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudian disyarahkan oleh Imam Nawawi dengan nama Al Majmu' Syarah Muhadzdzab :
" Tidak disukai /dibenci duduk-duduk ( ditempat ahli mayit ) dengan alasan untuk Ta'ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdats adalah " Bid'ah ".


6. Perkataan Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, dikitabnya Fathul Qadir (2/142) dengan tegas dan terang menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah " Bid'ah yang jelek ". Beliau berdalil dengan hadits Jarir yang
beliau katakan shahih.

7. Perkataan Al Imam Ibnul Qayyim, dikitabnya Zaadul Ma'aad (I/527-528) menegaskan bahwa berkumpul-kumpul ( dirumah ahli mayit )dengan alasan untuk ta'ziyah dan membacakan Qur'an untuk mayit adalah " Bid'ah " yang tidak ada petunjuknya dari Nabi SAW.

8. Perkataan Al Imam Asy Syaukani, dikitabnya Nailul Authar (4/148) menegaskan bahwa hal tersebut menyalahi sunnah.

9. Perkataan Al Imam Ahmad bin Hambal, ketika ditanya tentang masalah ini beliau menjawab :
" Dibuatkan makanan untuk mereka (ahli mayit ) dan tidaklah mereka (ahli mayit ) membuatkan makanan untuk para penta'ziyah."
(Masaa-il Imam Ahmad bin Hambal oleh Imam Abu Dawud hal. 139 )

10. Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, " Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit dan mengirimnya kepada mereka. Akan tetapi tidak disukai mereka membuat makanan untuk para penta'ziyah.
Demikian menurut madzhab Ahmad dan lain-lain." ( Al Ikhtiyaaraat Fiqhiyyah hal.93 ).

11. Perkataan Al Imam Al Ghazali, dikitabnya Al Wajiz Fighi Al Imam Asy Syafi'I ( I/79), " Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayit."

Kesimpulan :
1. Bahwa berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit hukumnya adalah BID'AH dengan kesepakatan para Shahabat dan seluruh imam dan ulama'termasuk didalamnya imam empat.
2. Akan bertambah bid'ahnya apabila ahli mayit membuatkan makanan untuk para penta'ziyah .
3. Akan lebih bertambah lagi bid'ahnya apabila disitu diadakan tahlilan pada hari pertama dan seterusnya.
4. Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Saw kaum kerabat /sanak famili dan para tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Saw ketika Ja'far bin Abi Thalib wafat:
" Buatlah makanan untuk keluarga Ja'far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka ( yakni musibah kematian )."
( Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi'I ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205 )

Wahai Saudaraku,
APAKAH PERKATAAN ORANG-ORANG AHLUL ILMU TERSEBUT MASIH BELUM MEYAKINKAN ?

Marilah kita mencoba merenungi dengan hati yang jernih, janganlah kita kedepankan hawa nafsu kita. Tentu dalam hati kita senantiasa banyak pertanyaan yang mengganjal diantaranya :
- Kenapa sejak dahulu, kakek kita, bapak kita, ustadz kita bahkan kyiai kita mengajarkannya dan bahkan sudah lumrah dimasyarakat ?
- Darimana mereka ( ustadz/kyiai kita ) mengambil dalilnya apa hanya budaya ?

Wahai saudaraku,
Dalam menilai sebuah kebenaran bukanlah disandarkan oleh banyak atau sedikitnya orang yang mengikuti, karena hal ini telah disindir oleh Alloh SWT dalam QS. Al An'aam 116 :
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini,niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk."

Marilah kita dalam beragama bersandarkan kepada dalil-dalil yang shahih karena dengan berdasar hujjah ( dalil ) yang kuat maka kita akan selamat. Kita tidak boleh beragama hanya mengikuti orang lain yang tidak mengetahui tentangnya karena di akhirat kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang telah kita lakukan di dunia, perhatikan peringatan Alloh dalam QS. Al Israa' 36 ;
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya."

MUDAH-MUDAHAN ALLOH SWT MEMBERIKAN TAUFIK SERTA HIDAYAH KEPADA KITA SEHINGGA MENDAPAT RIDHO DARI ALLOH SUBHANAHU WA TA’ ALA ATAS AMAL YANG KITA LAKUKAN BUKAN SEBALIKNYA, AMIN

(Maraji, dari kitab " Al Masaail oleh Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat ")

Wallahua'lam bish showab




Tahlilan dan Selamatan Menurut madzhab Syafi'i
Oleh :Drs Ubaidillah


TAHLILAN
Acara tahlilan, yaitu acara pengiriman pahala bacaan kepada mayit/roh, merupakan tradisi yang telah melembaga di kalangan masyarakat atau dengan kata lain, telah menjadi milik masyarakat Islam di tanah air.
Dalam acara tersebut lazimnya dibacakan ayat-ayat Al Qur'an tertentu, bacaan laa ilaaha illallah, subhanallah dll, dengan niat pahala bacaan tersebut dihadiahkan / dikirimkan kepada mayit / roh tertentu atau arwah kaum Muslimin pada umumnya. Satu hal yang belum banyak diketahui kaum muslimin itu sendiri ialah,
pada umumnya mereka, mengaku BERMADZAB SYAFI'I, baik dengan pengertian yang sebenarnya atau hanya ikut-ikutan. Namun demikian, ironinya justru amalan
Tahlilan atau Selamatan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit itu bertentangan dengan berbagai pendapat ulama-ulama dari kalangan madzhab Syafi'I, termasuk Imam Syafi'i sendiri. Kalau toh ada pendapat lain dari
kalangan madzhab tersebut maka jumlahnya sangat sedikit dan dipandang lemah, sebab bertentangan dengan ajaran Al Qur'an (ayat 39 Surat An Najm dan Sunnah Rasulullah serta para sahabatnya), yang mendasari pendapat mereka.
Berikut ini penulis bawakan sejumlah pendapat Ulama-Ulama Syafi'i tentang masalah tersebut yang dikutib dari Kitab-kitab tafsir, Kitab-kitab Fiqih dan Kitab-kitab Syarah Hadits, yang penulis pandang mu'tabar (jadi pegangan) di kalangan pengikut-pengikut madzhab Syafi'i.

Pendapat Imam As Syafi'i Rahimahullah.
Imam An Nawawi menyebutkan di dalam kitabnya, SYARAH MUSLIM, demikian :
"Adapun bacaaan Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang masyur dalam madzhab Syafi'i, tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi...Adapun dalil Imam Syafi'i dan pengikutnya adalah firman Allah
(yang artinya), "Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri" dan sabda Rasulullah SHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAM,
"Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal yaitu, sedakah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang berdoa untuknya." (An Nawawi, SYARAH MUSLIM, Juz 1 Hal. 90).

Juga Imam Nawawi di dalam Kitab Takmilatul Majmu', Syarah Mahadzab mengatakan : "Adapun bacaan Qur'an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit tsb, menurut Imam Syafi'i dan Jumhurul Ulama', tidak sampai kepada mayit yang dikirimi. Keterangan ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim." (As Subuki, TAKMILATUL MAJMU', syarah MUHADZAB, juz X, hal. 426). (Mengganti shalat mayit, maksudnya menggantikan shalat yang ditinggalkan almarhum
semasa hidupnya).

Al Haitami, di dalam Kitabnya, Al FATAWA AL KUBRO AL FIGHIYAH, mengatakan demikian : "Mayit, tidak boleh dibacakan apapun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari Ulama' Mutaqaddimin (terdahulu), adpun bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan tersebut untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkan firman Allah, "Dan Manusia tidak memperoleh, kecuali pahala
dari hasil usahanya sendiri." (Al Haitami, AL FATAWA AL KUBRA AL FIGHIYAH, juz 2, hal. 9).

Imam Muzani, di dalam Hamisy AL UM, mengatakan demikian :
"Rasulullah SHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAM memberitahukan sebagaimana yang diberitakan Allah, bahwa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya amalnya adalah untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain dan tidak dapat dikirimkan kepada orang lain." (Tepi AL UM, AS SYAFI'I, juz 7, hal. 269).

Imam Al Khaizin di dalam tafsirnya mengatakan sebagai berikut: "Dan yang masyhur dalam madzhab Syafi'i adalah, bacaan Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi." (Al Khazin, AL JAMAL, juz 4, hal. 236).

Di dalam tafsir Jalalain disebutkan demikian :
"Maka sesorang tidak memperoleh pahala sedikitpun dari usaha orang lain."
(Tafsir JALALAIN, 2/197).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya TAFSIRUL QUR'ANIL AZHIM menafsirkan ayat 39 Surat An Najm dengan mengatakan "Yakni, sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa kepada orang lain, demikian juga manusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan dari hasil amalnya sendiri, dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 An Najm), Imam Syafi'i ra. dan Ulama-ulama yang mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit tidak akan sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah SHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAM tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun dengan isyarat. Juga tidak ada seorang sahabatpun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut. Kalau toh amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya, padahal amalan qurban (mendekatkan diri kepada Allah SHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAM) hanya terbatas yang ada
nash-nashnya (dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAM) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat."

Demikian diantaranya berbagai pendapat Ulama Syafi'iyah tentang acara tahlilan atau acara pengiriman pahala bacaan kepada mayit/roh, yang ternyata mereka mempunyai satu pandangan yaitu, mengirimkan pahala bacaan
Qur'an kepada mayit / roh tidak akan sampai kepada mayit atau roh yang dikirimi, terlebih lagi kalau yang dibaca itu selain Al Qur'an, tentu saja akan lebih tidak sampai kepada mayit yang dikirimi. Jika sudah jelas
bahwa pengiriman pahala tersebut tidak dapat sampai, maka acara-acara semacam itu adalah sia-sia belaka, atau merupakan perbuatan tabdzir. Padahal Islam melarang umatnya berbuat sia-sia dan tabdzir.

Adapaun dasar hukum dari pendapat mereka itu adalah firman Allah SHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAM dalam surat An Najm ayat 39 dan Hasits Rasulullah SHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAM tentang terputusnya amal manusia apabila ia telah meninggal dunia, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh, baik laki-laki maupun perempuan yang berdoa untuk orang tuanya. Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana kalau seandainya setiap usai tahlilan lalu berdoa, ALLAHUMA AUSHIL TSHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAMABA MAA WARA'NAAHU ILA RUHI FULAN (Ya Allah sampaikanlah pahala bacaan kami tadi kepada roh si fulan)? Pertanyaan tadi dapat dijawab demikian : Ulama telah sepakat, bahwa pengiriman pahala bacaan itu tidak sampai kepada toh yang dikirimi, sebab
bertentangan dengan firman Allah SHALALLAAHU'ALAIHI WASSALAM dalam Surat An Najm ayat 39. Adalah sangat janggal, kalau kita berbuat mengirimkan pahala bacaan kepada mayit, yang berarti kita telah melanggar syari'at-Nya, tetapi kemudian kita mohon agar perbuatan melanggar syari'at itu dipahalahi dan lebih dari itu, mohon agar do'a tersebut dikabulkan. Jadi, kalau toh sehabis acara tahlilan itu, kita lalu berdoa seperti itu, rasanya adalah janggal dan tetap tidak dapat dibenarkan, karena mengandung hal-hal yang kontradiktif (bertentangan); yaitu di satu pihak, doa adalah ibadah dan di pihak lain amalan megirim pahala bacaan adalah amalan sia-sia, yang berarti melanggar syari'at, yang kemudian, amalan semacam itu kita mohonkan agar dipahalahi, dan pahalanya disampaikan kepada roh.

SELAMATAN KEMATIAN
Demikian juga selamatan atau berkumpul dengan hidangan makanan di rumah keluarga mayit, baik pada saat hari kematian, hari ke dua, hari ke tiga, ke tujuh, ke empat puluh, ke seratus dsb..maupun dalam upacara yang sifatnya massal yang lazimnya dilakukan di perkuburan (maqrabah) yang biasa disebut khaul dll. yang di situ juga di adakan acara selamatan atau makan-makan, maka sebenarnya apabila kita periksa di dalam kitab-kitab
Syafi'iyah, baik kitab-kitab fiqih, tafsir maupun syarah-syarah hadits, amalan tersebut dinyatakan sebagai amalan 'terlarang' atau dengan kata lain 'haram'.Hal ini tentu belum banyak diketahui oleh kalangan madzhab Syafi'i itu sendiri, atau kalau toh ada yang tahu, maka jumlahnya tidak banyak, maka marilah kita ikuti bersama bagaimana pandangan mereka tentang masalah ini.
Di dalam kitab Fiqih I'anatut Thalibin dinyatakan demikian:
"Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk bid'ah munkarat bid'ah yang di ingkari agama) yang bagi orang yang memberantasnya akan
diberi pahala." (I'anatut Thalibin. Syarah Fat-hul Mu'in, juz 2, hal.145).

Imam Syafi'i sendiri tidak menyukai adanya berkumpul di rumah ahli mayit ini, seperti yang beliau kemukakan dalam Kitab AL UM sbb : "Aku tidak menyukai ma'tam, yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayit), meskipun di situ tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru." (As Syafi'i AL UM, juz 1, hal. 248).
Selanjutnya di dalam Kitab I'anatut Thalibin tersebut dikatakan demikian: "Dan apa yang dibiasakan orang tentang hidangan makanan oleh keluarga mayit untuk dihidangkan kepada para undangan, adalah bid'ah yang
tidak disukai dalam agama, sebagaimana halnya berkumpul di rumah keluarga mayit itu sendiri, karena ada hadits shahih yang di riwayatkan Jarir yang berkata: "Kami mengganggap, bahwa berkumpul di rumah keluarga mayit dan menghidangkan makanan adalah sama dengan hukum niyahah (meratapi mayit) yakni haram." (I'anatut Thalibin, juz 2, hal. 146).

Juga pengarang I'anah mengutip keterangan dari Kitab BAZZAZIYAH sebagai berikut: "Dan tidak disukai menyelenggarakan makan-makan pada hari pertama (kematian), hari ke tiga, sesudah seminggu dan juga memindahkan makanan ke kuburan secara musiman (seperti peringatan khaul - pen) (I'anatut thalibin, juz2, hal. 146).

Di dalam Kitab Fiqih Mughnil Muhtaj disebutkan demikian: "Adapun menyediakan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang banyak di situ, adalah bid'ah, dan dalam hal ini Imam Ahmad yang sah dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, "Kami menganggap, bahwa berkumpul di rumah keluarga mayit dan menghidangkan makanan oleh keluarga mayit untuk acara itu, adalah sama hukumnya dengan niyahah (meratapi mayit), yaitu haram." (MUGHNIL MUHTAJ, juz 1, hal. 268).

Di dalam Kitab Fiqih Hasyiyatul Aqlyubi, dinyatakan demikian: "Syekh Ar Ramli berkata, "Di antara bid'ah yang munkarat (yang tidak dibenarkan agama), yang tidak disukai dikerjakan, yaitu sebagaimana diterangkan di
dalam Kitab Ar Raudlah, yaitu apa yang dikerjakan orang, yang disebut:
kirafah," dan hidangan makanan untuk acara berkumpul di rumah keluarga mayit, baik sebelum maupun sesudah kematian, dan juga penyembelihan di kuburan." (Hasyiyatul Qalyubi, juz 1, hal. 353).

Di dalam Kitab Fiqih karangan Imam Nawawi, AL MAJMU' syarah MUHADZAB, antara lain dikatakan demikian: "Adapun penyediaan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang banyak di situ adalah tidak ada nashnya sama sekali, yang jelas itu adalah bid'ah. " (An-Nawawi, AL MAJMU' SYARAH MUHADZAB, juz 5, hal. 286).

Juga pengarang I'anatut Thalibin mengutip keterangan dalam Kitab AL JAMAL SYARAH AL MINHAJ, yang berbunyi demikian: "Dan di antara bid'ah yang munkarat yang tidak disukai, ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari ke empatpuluh, bahkan semua itu adalah haram." (I'anatut Thalibin, juz2,hal. 145-146).
matsom
1. dalam buku 'Hamka Membahas Soal-Soal Islam', Pak Hamka ada menyatakan bahawa adat bertahlil pada malam-malam tertentu selepas berlaku kematian berasal dari kepercayaan animisme,

yang mempercayai roh si mati akan mengunjungi rumahnya pada malam-malam pertama, ke-3 sehingga ke-7, kemudian datang lagi (!) mengganggu keluarganya pada malam-malam ke-40, ke-60, ke-100 etc.

maka mereka yang berpegang dengan adat ini akan mengajak jiran-jiran dan sanak saudara supaya berkumpul di rumah mayit untuk menghalang gangguan roh-roh ini.

2. seorang ustaz mendakwa dari kajian beliau ada kepercayaan Hindu yang menganjurkan berkumpul di rumah yang berlaku kematian pada malam-malam tertentu (malam pertama hingga ketujuh, ke-40, ke-60, ke-100 etc), sebab percaya pada hari-hari tersebut akan turun dewa-dewa ke rumah mayit nak mengganggu keluarga arwah,

maka mereka yang berpegang dengan adat ini akan mengajak jiran-jiran dan sanak saudara supaya berkumpul di rumah mayit untuk menghalang gangguan makhluk-makhluk ghaib ini.

ini asalnya adat bertahlil dan kenduri arwah menurut keduanya.

-Islam mengajar penganutnya berkabung paling lama 3 hari sahaja bila berlaku kematian, kecuali bagi wanita yang kematian suami, tempoh berkabung adalah 4 bulan 10 hari,

-seeloknya ketika berkabung, mereka mendoakan supaya Allah mengampuni dosa arwah (bukan sedekah pahala), ini berdasarkan ayat 10 surah Al Hasyr,

-menghiburkan keluarga arwah dengan bacaan Al Quran, kerana pahala dan rahmat kepada pembaca dan orang yang mendengar Al Quran, berdasarkan ayat 204 surah Al A'raf,

-menyedekahkan makanan kepada keluarga arwah sebagaimana hadis Rasulullah yang disebut dalam artikel di atas,

-menyuruh mereka membanyakkan zikir kerana mengingati Allah itu menenangkan hati (lupa ayat kat surah mana, mafhumnya "sesungguhnya dengan zikrullah itu menenangkan hati")

-selalu menziarahi kubur, mengucap salam kepada ahli-ahli kubur, dan mendoakan mereka -membaca Quran di kubur ada khilaf, manakala dalam mazhab Syafie ada 2 qaul, satu kat boleh satu kata tak boleh.

wallahua'lam
waniezz
QUOTE(matsom @ Apr 15 2005, 10:09 AM)
1. dalam buku 'Hamka Membahas Soal-Soal Islam', Pak Hamka ada menyatakan bahawa adat bertahlil pada malam-malam tertentu selepas berlaku kematian berasal dari kepercayaan animisme,

yang mempercayai roh si mati akan mengunjungi rumahnya pada malam-malam pertama, ke-3 sehingga ke-7, kemudian datang lagi (!) mengganggu keluarganya pada malam-malam ke-40, ke-60, ke-100 etc.

maka mereka yang berpegang dengan adat ini akan mengajak jiran-jiran dan sanak saudara supaya berkumpul di rumah mayit untuk menghalang gangguan roh-roh ini.

2. seorang ustaz mendakwa dari kajian beliau ada kepercayaan Hindu yang menganjurkan berkumpul di rumah yang berlaku kematian pada malam-malam tertentu (malam pertama hingga ketujuh, ke-40, ke-60, ke-100 etc), sebab percaya pada hari-hari tersebut akan turun dewa-dewa ke rumah mayit nak mengganggu keluarga arwah,

maka mereka yang berpegang dengan adat ini akan mengajak jiran-jiran dan sanak saudara supaya berkumpul di rumah mayit untuk menghalang gangguan makhluk-makhluk ghaib ini.

ini asalnya adat bertahlil dan kenduri arwah menurut keduanya.

-Islam mengajar penganutnya berkabung paling lama 3 hari sahaja bila berlaku kematian, kecuali bagi wanita yang kematian suami, tempoh berkabung adalah 4 bulan 10 hari,

-seeloknya ketika berkabung, mereka mendoakan supaya Allah mengampuni dosa arwah (bukan sedekah pahala), ini berdasarkan ayat 10 surah Al Hasyr,

-menghiburkan keluarga arwah dengan bacaan Al Quran, kerana pahala dan rahmat kepada pembaca dan orang yang mendengar Al Quran, berdasarkan ayat 204 surah Al A'raf,

-menyedekahkan makanan kepada keluarga arwah sebagaimana hadis Rasulullah yang disebut dalam artikel di atas,

-menyuruh mereka membanyakkan zikir kerana mengingati Allah itu menenangkan hati (lupa ayat kat surah mana, mafhumnya "sesungguhnya dengan zikrullah itu menenangkan hati")

-selalu menziarahi kubur, mengucap salam kepada ahli-ahli kubur, dan mendoakan mereka -membaca Quran di kubur ada khilaf, manakala dalam mazhab Syafie ada 2 qaul, satu kat boleh satu kata tak boleh.

wallahua'lam

Abis tu boleh ke tidak buat tahlil ni..confuse betul..wanie baru je ada baca dalam buku...kenduri tahlil ni untuk meringankan simati..memadai 7hari kalau kita yakin simati tu adalah org yg sentiasa beramal soleh dan boleh kita lanjutkan pada 40 hari bagi meringankan seksa kubur mereka..
matsom
QUOTE(waniezz @ Apr 16 2005, 03:13 PM)
Abis tu boleh ke tidak buat tahlil ni..confuse betul..wanie baru je ada baca dalam buku...kenduri tahlil ni untuk meringankan simati..memadai 7hari kalau kita yakin simati tu adalah org yg sentiasa beramal soleh dan boleh kita lanjutkan pada 40 hari bagi meringankan seksa kubur mereka..

ramai orang alim Melayu memandang ni isu furuk, jadi mereka menghukum buat kenduri arwah sebagai Harus,

dengan beberapa syarat:

-tidak membelanjakan lebih 1/3 dari harta peninggalan arwah,

-tidak membebankan keluarga arwah, maka lebih digalakkan belanja kenduri dan makanan itu disedekahkan oleh jiran-jiran,

-jangan beriktikad bahawa pahala itu boleh disedekahkan kepada arwah berdasarkan ayat Allah:

"dan bahawa tiadalah untuk manusia, melainkan apa-apa yang diusahakannya" (An Najm ayat 39)

prof dr h. mahmud yunus mentafsirkan: "ayat (-ayat) ini mentafsirkan dengan jelas bahawa tiadalah manusia mendapat pahala dari amalan orang lain, melainkan dari amalannya sendiri" (tafsir Quran Karim m/s 785)

dan hadis sahih riwayat imam Muslim:

"apabila mati seorang anak adam, maka terputuslah segala amalannya melainkan 3 perkara:
1. sedekah jariah (harta yang diwakaf)
2. ilmu yang dimanfaatkan (dengan mengajar dan mengamalkan)
3. anak yang salih yang mendoakannya"

sebaliknya ambil peluang dengan mengundang orang-orang alim bersama-sama dengan anak-anak arwah berdoa untuk arwah, memohon kepada Allah merahmati dan mengampunkan dosa mereka dan dosa-dosa arwah.

yang jelas keringanan dari azab kubur dapat diperoleh dengan menyempurnakan wuduk dan solat, dan selalu membaca dan memahami Al Quran -ini yang saya ingat dari beberapa hadis, isnad dan matan dia saya dah lupa.

-sebaik-baiknya tidak mengikut kepercayaan-kepercayaan bukan Islamik, jadi buat 'kenduri arwah' bukan semestinya pada hari-hari dan waktu tertentu mengikut adat Melayu, buat lepas Zohor buleh, buat masa dhuha pon buleh, lepas Asar pon buleh, hari ke-8 buleh, hari ke-37 pon buleh etc.

-hadir masa melawat atau berzikir bukan untuk meratap, tapi untuk menggembirakan keluarga arwah, dan menenagkan hatimereka dengan zikir kepada Allah

wallahua'lam
waniezz
wanie nak tanya nih...pls help..

riwayat Thaus: " Bahawa orang-orang mati itu akan dilakukan fitnah didalam kubur mereka,tujuh hari.Maka adalah mereka itu menganjurkan untuk memberi sedekah makanan atas nama mereka selama hari-hari itu.

Sebagai tambahan, dalam riwayat Ubaid bin Umair ialah:
"dilakukan fitnah kubur terhadap dua golongan orang,iaitu orang mukmin dan orang munafiq.Adapun orang mukmin dilakukan tujuh hari dan terhadap orang munafiq dilakukan 40hari.

Kalaulah tahlil tu haram kenapa pula ada terdapat cara2 bertahlil,wirid-wirid serta bacaan dan doa untuk arwah.

Terjemahan doa arwah :

Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam,salawat dan salam ke atas semulia Nabi dan Rasul dan ke atas keluarganya.Wahai Tuhanku jadikanlah pahala apa yang kami baca dan berkatilah apa yang kami baca dan apa yang kami selawat ke atas Nabi Engkau Muhammad s.a.w apa yang kami tahlil dan kami takbir sebagai hadiah dan sebagai rahmat yang turun daripada Engkau kami beri dan kami hadiahkan kpada roh Rasul ALLAH s.a.w dan tambahkanlah kemuliaan yang teragung kemudian kami hadiahkan kepada roh yang terdiri daripada nabi-nabi dan rasul-rasul dan kepada para malaikat dan kepada penghulu-penghulu kami Abu Bakar,Umar,Usman dan Ali dan sahabat-sahabat yang lain,dan kerabat2 Rasullulah dan para tabiin yang berikutan hingga hari Akhirat.(hari pembalasan)dan kepada roh-roh imam yang empat yang mujtahidin terutama Imam Syafie dan pengikutnya yang seagama dan kepada sekalian roh wali Allah yang soleh di timur dan di barat,dimana-mana mereka berada dalam pengetahuan-Mu wahai Tuhana sekalian alam,dan sekaian roh orang Islam yang meninggal dunia daripada umat Muhammad s.a.w sekalian dan dijadikanlah wahai Tuhanku pahala yang seperti demikian diatas buku catatan orang yang kami berhimpun bertahlil disini,untuk (sebutkan nama sekalian tahlil itu untuk orang tertentu walaupun didlm hati).Dan dibacakan Al-Quran yang mulia (besar)untuknya kerana engkau mengetahui dan mengetahui nama dan tidak perlu mengazabkannya walaupun semulia orang yg mulia.Sampaikanlah Tuhan kami pahala itu kepadanya dan jadikanlah cahaya yang terang disampingnya dan lemah lembutlah wahai Tuhan kami dengan rahmat Engkau di atasnya dan beri rahmatlah kepadanya dengan Al-Quran yang mulia(besar)sebagai rahmat yang luas dan ampunikanlah sebagai keampunan yang mennyeluruh wahai yang memiliki dunia dan akhirat wahai Tuhan sekalian alam Allah bersalawat ke atas penghulu kami Nabi Muhammad dan ke atas keluarganya dan sahabatnya dan puji-pujian adalah ketentuan Tuhan sekalian alam.

Soalannya : 1) berdosa ke kita bersedekah makanan untuk mereka yg hadir bertahlil diatas nama si arwah tadi?

2) Haram ke hukumnya bertahlil ni?betul ke kita mengikut kefahaman hindu?
matsom
QUOTE
riwayat Thaus: " Bahawa orang-orang mati itu akan dilakukan fitnah didalam kubur mereka,tujuh hari.Maka adalah mereka itu menganjurkan untuk memberi sedekah makanan atas nama mereka selama hari-hari itu."
riwayat Ubaid bin Umair
"dilakukan fitnah kubur terhadap dua golongan orang,iaitu orang mukmin dan orang munafiq.Adapun orang mukmin dilakukan tujuh hari dan terhadap orang munafiq dilakukan 40hari.
riwayat dalam kitab mana? disahihkan oleh ahli hadis yang mana?

QUOTE
Kalaulah tahlil tu haram kenapa pula ada terdapat cara2 bertahlil,wirid-wirid serta bacaan dan doa untuk arwah.

ianya perbuatan bida'ah, ajaran beberapa ulama khalaf, asalnya (menurut Hamka) kerana nak menjaga syariat semasa awal penyebaran Islam di nusantara. orang melayu kuat berpegang kepada kepercayaan animisme dan hindu, dan dalam perkara kematian mereka mengamalkan banyak ritual. penyebar-penyebar Islam cuba mengurangkan kebatilan ini dengan memperkenalkan doa arwah dan tahlil dengan bacaan tertentu, tetapi tidak berjaya/sempat melakukannya sepenuhnya. terus jadi amalan turun-temurun/tradisi nenek moyang, malah setiap keturunan Melayu berpegang kuat kepadanya, dan setiap usaha nak menhapuskan amalan tahlil dan kenduri arwah memang akan jadi susah sebab kukuhnya keprcayaan kita dengan adat-adat nenek-moyang.

QUOTE
Terjemahan doa arwah :...
setiap nama yang disebut, dari nama Rasulullah sehingga nama Imam Syafie, setiap dari mereka tidak pernah mengajar do'a cara begini untuk amalan bertahlil/kenduri arwah/ta'ziyyah, ianya amalan yang diada-adakan.
QUOTE
1) berdosa ke kita bersedekah makanan untuk mereka yg hadir bertahlil diatas nama si arwah tadi?

sedekah perbuatan sunat, bertahlil ikut cara Melayu kita amalan bida'ah. berdosa atau tidak, wallahua'lam, benda ghaib itu urusan Allah, benda yang zahir urusan kita.
QUOTE
2) Haram ke hukumnya bertahlil ni?
rujuk artikel si_comel, bahagian akhir,

dan dari hadis:
"barangsiapa beramal satu amalan yang tidak ada contoh dari kami, ia tertolak" (riwayat Muslim)

jelas amalan ini bida'ah. halal atau haram?
dalam hal bida'ah ulama awal (dari sahabat sampai tabi' tabi'in) sangat keras, maka jawapan mereka Haram beramal dengan apa jugak ibadat yang tidak diajar oleh sunnah,
ulama moden cuba guna cara psikologi, jadi tak kata Haram terus, tetapi berusaha mengurangkannya.
QUOTE
betul ke kita mengikut kefahaman hindu?

yang jelas kita tidak mengikut amalan Rasulullah dan para sahabat dan para tabi'in dan pengikut-pengikut mereka,
saya tak belajar pasal agama Hindu, tak boleh confirm.
walllahu'alam.
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.
Invision Power Board © 2001-2014 Invision Power Services, Inc.